Tampilkan postingan dengan label Sebuah Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 November 2012

Bulan Merah Jambu



Pagi terasa sepi. Diam tak ada suara. Aku merasa nyaman dipeluk ketenangan. Sunyi. Senyap. Tetapi itu tak lama.

“Zuha muncul di koran! Zuha muncul di koran!” sebuah suara membuat ketenangan melepaskan pelukannya. Suara Idha. Dan bukan hanya mulutnya yang bersuara. Dari kakinya pun keluar suara gedebag-gedebug yang keras. Pula, dalam hitungan detik terdengar pintu berderit. Bahkan berdebam. Mungkin empunya kamar membuka dengan sangat bersemangat. Keheningan pagi terburai menjadi serpih. Lalu ada riuh. Aku tergoda. Bukan karena riuhnya, tapi karena satu nama yang diteriakkan Idha.

Zuha! Zuha muncul di koran!
Akulah yang terakhir membuka pintu. Di dekat meja, kulihat lima gadis mengerumuni Idha yang tengah membentangkan koran. Wajah mereka sangat antusias. Nainy yang pertama kali mendongak ke arahku. “Tabita, Zuha! Ia mengajar anak-anak di sana…,” gadis itu berkata kemudian memberikan tempatnya untukku. Juga jarinya menunjuk kolom yang tengah menjadi pusat perhatian.

Oh, Tuhan. Tak apalah hening pagi terburai menjadi serpih. Sebab wajah di lembaran koran itu memang Zuha. Ia berdiri anggun dengan baju merah dan kerudung biru tua. Di belakangnya ada papan tulis dan di depannya anak-anak yang tak berbaju seragam. Mereka bersama dalam sebuah tenda. Sebuah judul mengantar tulisan tentangnya. Zuha pun Turut Mengajar.

Aku melihatnya beberapa saat dan tenyata mataku memanas. Meski bukan foto close up, rasanya dapat kulihat wajahnya dengan jelas. Wajah tirus sejalan dengan tubuhnya yang kurus. Namun, mata yang terletak di bawah lengkung kerudung itu sangat teduh. Sangat teduh. Anak-anak yang duduk di depannya itu pasti dapat merasakan keteduhan matanya meski mata itu sempat bengkak ketika televisi menyuguhkan gambar-gambar memilukan tentang tanah kelahirannya yang luluh lantak tertimpa gelombang dahsyat. Rasanya wajah teduh itu belum lama meninggalkan tempat ini. Pondokan putri yang kamarnya tujuh buah dan salah satu penghuninya adalah dia. Tak lama mata panasku melahirkan bulir bening di kedua sudutnya. Aku terisak. Lalu menyusul isak yang lain. Satu satu hingga semua terisak. Semua mata melahirkan bulir bening yang kemudian pecah menjadi sungai. Pagi ini kami kembali menangis untuk Zuha.

Hari sudah malam. Koran pagi masih kupegang. Aku berdua dengan Nainy duduk di beranda. Bulan bundar menggantung di langit yang berawan. Sudah beberapa hari ini hujan tak datang menyapa. Mungkin hujan sedang berpuas-puas menjatuhkan diri di beberapa tempat — yang bukan tempat ini. Lalu datanglah banjir di sana. Agh, betapa kita sedang sangat akrab dengan bencana.

“Dia tampak tegar, Nain,” aku berkata. Aduh Zuha, malam ini obrolan kami belum juga beranjak dari kamu.
“Aku bersyukur, Ta. Andai aku jadi dia, pasti aku sudah gila dibuatnya. Bagaimana mungkin bapak yang malamnya masih berbicara di telepon paginya hilang dimakan gelombang,” Nainy berkata dengan wajah sayu. Anganku melompat. Dulu, begitu sering aku, Zuha, dan Nainy menikmati malam di beranda. Mungkin karena kami terhitung penghuni paling lama di pondokan ini, maka kami bertiga sudah demikian menyatu sebagai sahabat.

Kami suka memandang rembulan. Terlebih jika ia purnama. Kami ngobrol apa saja. Bahkan suka melantur kemana-mana. Termasuk membicarakan rembulan yang sedang menggantung di langit malam.
“Apakah warna rembulan?” Zuha pernah bertanya.
“Kuning emas!” jawabku yakin dan mantap.
“Kuning agak jingga,” sangkal Nainy kalem.
“Menurutku, bulan berwarna merah jambu,” ujar Zuha disambut penolakan dari aku dan Nainy.
Bagaimana mungin bulan berwarna merah jambu. Aku menunjuk pohon jambu di seberang jalan yang kebetulan sedang berbuah. Warnanya merah. Dan bulan tak sewarna dengan warna merah buah itu. Namun Zuha justru bersenandung: bulan merah jambu, luruh di kotamu, kuayun sendiri langkah-langkah sepi, menikmati angin, menabuh daun-daun, mencari gambaranmu di waktu lalu, sisi ruang batinku hampa rindukan pagi, tercipta nelangsa, merengkuh sukma.*)

Selanjutnya, berkali-kali kita kita di beranda. Dan tetap saja kau katakan bahwa bulan berwarna merah jambu meski aku dan Nainy selalu menolaknya. Agh, Zuha. Sedang apa kau malam ini? Apakah di sana juga sedang terlihat rembulan? Dan apakah akan kau katakan pada orang-orang bahwa warnanya merah jambu? Bukan kuning emas atau kuning agak jingga?

Wajah teduhmu di koran ini membuat segala kenangan tentangmu bertaburan di udara pondokan. Terutama kenangan hari Minggu pagi itu. Kakiku sakit. Mungkin keseleo waktu bergegas-gegas di tangga pondokan. Maka, pukul lima empat lima kau kendarai motor mengantarku ke gereja untuk ibadah pukul enam. Gereja ramai oleh jemaat sebab aroma natal masih kental. Waktu itu aku tak dapat pulang untuk merayakan natal bersama keluarga. Rumahku juga jauh di pulau seberang sementara kita dalam musim ujian. Kau turunkan aku hingga halaman. Jemaat yang hendak masuk memperhatikan kita seolah melihat alien yang barusan turun dari langit. Ada dua hal yang sangat mungkin membuat kita menjadi pusat perhatian. Pertama, kakiku yang berjalan terpincang-pincang. Kedua, kerudung birumu sebagai sebuah bagian pakaian yang tak lazim dipakai orang di lingkungan gereja (di Indonesia).

Namun, daripada merasa salah tingkah dengan perhatian orang, kau memilih untuk tetap berwajah teduh. Juga tak segera beranjak untuk memastikan aku bisa masuk ke ruang ibadah dengan selamat. Dalam gereja, kupanjatkan syukur untuk bantuan yang terasa tulus kau lakukan. Usai kebaktian, begitu keluar pintu sudah kudapatkan kau siap membawaku pulang kembali ke pondokan. Kita kembali menjadi tumpuan perhatian banyak orang. Tapi kita sambut keheranan itu dengan senyuman yang ringan. Kau starter motor, dan begitu melaju, kerudung birumu melambai melawan angin yang menghembus.

Ah, ya. Pagi itu kau memakai kerudung baru. Kemarin kerudung itu masih terbungkus rapi dalam kertas kado bergambar bunga lili. Aku dan Nainy memberikan padamu untuk ulang tahunmu yang keduapuluh satu. Kami memang memilih untuk memberimu kado kerudung berwarna biru. Sebab kami tahu kau menginginkan benda itu. Dua minggu sebelumnya, kita menjelajah Pasar Klewer mengantar Nainy yang diminta untuk belanja pakaian bayi. Menurut hitungan dokter, kakaknya sebentar lagi akan melahirkan.

Kita usai belanja lantas berusaha keluar melalui lorong-lorong ramai dan sumpek. Lorong-lorong itu kunamai labirin. Sebab ia ruwet sehingga aku tak pernah dapat masuk dan keluar pada celah keluar yang sama. Di depan kios kerudung kita tertahan kuli yang sedang membongkar barang. Kita pun berhenti. Matamu tertuju pada sebuah kerudung yang tersampir sebagai barang dagangan. Kau bertanya pada penjualnya, berapa harganya? Ia menjawab, tujupuluh lima ribu. Ouw, harga yang mahal untuk sebuah kerudung. Namun kerudung biru itu memang halus sebab terjalin dari benang sutera. Matamu berpijar menginginkannya. Hanya, kau tak membelinya sebab dompetmu hanya dompet mahasiswa yang lebih sering tebal karena berjenis-jenis kartu dan bukannya uang. Sama persis, dompetku dan Nainy.

Dua puluh lima Desember kau berulang tahun. Tiga hari sebelum tanggal itu, aku dan Nainy kembali menjelajah Pasar Klewer. Mencari kios yang menjajakan kerudung yang dulu kau suka. Itu bukan perkara mudah. Pasar Klewer bukan mall yang serba teratur dan rapi. Entah kami telah berputar berapa kali sebelum akhirnya dapat menarik nafas lega. Kami menemukannya. Dan nafas kami bertambah lega saat kami bisa menawarnya. Dari harga tujupuluh lima ribu yang ditawarkan, kami bisa membuat pedagang itu melepaskan dengan harga lima puluh ribu saja. Kami berbagi. Aku duapuluh lima ribu, Nainy juga duapuluh lima ribu. Kau senang menerimanya. Bahkan, begitu kau buka bungkusnya, dengan antusias kau langsung memakainya. Hari selanjutnya kerudung itu masih kau pakai, juga untuk mengantarku ke gereja. Minggu pagi itu kau masih tersenyum-senyum senang. Terlebih Sabtu malam, abimu di Meulaboh menelepon mengucapkan selamat ulang tahun. Kau bilang, umimu juga turut bicara dan kau juga dapat mendengar suara adik-adikmu walau sayup-sayup saja. Namun siapa sangka bila itu menjadi suara terakhir yang kau dengar?

Minggu siang menjelang sore. Teve dinyalakan untuk melepas penat habis membaca bahan-bahan ujian. Seketika tawa kita berganti duka. Air laut yang didorong gempa telah meluluh-lantakkan segalanya. Kau menangis namun tetap ada ketabahan pada sedu sedannya. Meski demikian matamu bengkak juga. Dua minggu berikutnya kau memaksa untuk pulang. Katamu, kau akan mencari keluargamu. Kami tak dapat menahan meski kami khawatir sebab di sana pasti penuh ketidakpastian. Sore itu kami antar kau hingga pemberangkatan.

Sebulan lalu datang kabarmu lewat pesan pendek di layar ponselku. Abi dan umimu meninggal. Juga dua adikmu yang kau sayangi. Namun, syukur pada Tuhan masih ada satu adik yang selamat. Kau juga bilang, kau tak mungkin lagi kembali ke kota ini meski jelas kuliahmu belum usai. Sebab, di kota ini kau pasti tak dapat melakukan apa-apa sementara di sana banyak kesedihan yang menanti untuk ditangani. Karena itu, kau bilang, meski sedikit aku akan bertindak.

Dan kau memang melakukannya. Pagi tadi, di koran ini dapat kami lihat wajah teduhmu, dibalut kerudungmu yang berwarna biru. Kau berdiri di depan anak-anak yang juga merasakan kehilangan. Apa yang kau katakan pada mereka, Zuha? Berita di koran tak menuliskannya. Namun pasti kata-kata yang menguatkan sebab kau telah membuktikan jika kau kuat menanggung kesedihan seperti yang mereka punya.

“Tabita, sudah malam… masuk yuk,” suara Nainy memutus ingatan yang mengembara ke mana-mana. Kulihat di sudut matanya ada bulir bening seperti tadi pagi. Pasti ia juga larut mengingat Zuha. Kami pun berurut masuk pintu pondokan. Di luar bulan masih menggantung disaput awan. Dulu, kami suka berdebat tentang warnanya.

Bandung, 2005
Untuk Yanti di Nias.

Selasa, 06 November 2012

DUA LEMBAR UANG SERATUS RIBUAN



LELAKI itu membangun rumah entah untuk siapa. Kalau untuk anak-anaknya kelak, kenapa ia tak sempat menulis sepucuk surat wasiat? Sebelum kematian tiba, dia hanya meninggalkan dua lembar uang seratus ribu rupiah di almari tua, yang penuh debu dan dendam.

Uang itu, secara kebetulan, aku temukan seminggu selepas dia dikebumikan. Aku bergetar, nyaris pingsan dan sampai kini masih terus dihantui pertanyaan; apa salah dan dosaku sampai uang itu tidak sempat ia sentuh untuk membeli obat di saat kematian mau menjemput?

Aku terpaksa pulang hari itu seusai ibu menelpon dan bercerita kalau ayah sakit, terbaring di rumah sakit. Ritmis napasnya mirip gerimis yang turun di suatu senja, murung, dan tak bergemuruh ketika aku tiba di rumah sakit petang itu. Kening ayah yang penuh dengan kerut-marut, tanpa aroma, seperti menguapkan kesedihan tatkala aku mendekat dan duduk di ujung ranjang.

Aku termangu, menatap tubuh renta ayah yang sudah tak berdaya. Aku tahu ayah tak punya harapan hidup lagi dan air mataku seketika mau tumpah. Sebuah air mata penantian seorang anak yang pulang disambut dengan kebisuan karena ayah tak sadarkan diri, terbaring seperti patung. Karena itu, ibu sengaja membiarkanku terpaku menatap wajah ayah.

Duduk bersidekap sedih di ujung ranjang ayah yang terbaring koma, kembali mengingatku retak kisah sepanjang malam ketika aku masih remaja dulu. Ia nyaris tak pernah keluar malam sampai aku setengah mati membenci ayah. Dia nyaris hanya menghabiskan malam, selepas dari mushalla untuk menunaikan shalat jamaah, lalu mendengarkan radio tua, menutup koran usang, lalu beranjak tidur. Hari-hari ayah, selalu berlalu dengan ditemani radio tua yang berderak, koran bekas dan sisa napas yang tersengal di ambang malam saat ia terbangun untuk menunaikan shalat tahajud.

Saat itu aku masih remaja. Tapi aku nyaris tak mampu melupakan malam yang melukai kalbu, sewaktu tuntutanku pada ayah untuk masuk STM tak dipenuhi. Aku kemudian menghabiskan malam-malamku di luar rumah, pulang tengah malam atau menjelang pagi. Aku selalu gemetar mengetuk pintu, karena ibu yang selalu membukakan pintu dan bertanya, “Dari mana saja kamu?”

Aku tak pernah merasa perlu untuk menjawab pertanyaan ibu. Aku kemudian menerabas ke kamarku dan menutup pintu dengan rapat. Malam-malamku selalu berlalu dengan kepulanganku yang menyedihkan. Untung kegelapan membuatku berani menatap langit dan tak lagi sakit-sakitan. Jadi, aku tak lagi takut pada malam dan selepas es em u (SMU), aku memutuskan pergi dari rumah.

Dengan doa ibu, aku kemudian kuliah dan bisa lulus. Dan selepas kuliah, aku kebetulan mendapat pekerjaan yang cukup layak di Jakarta. Tetapi, aku seperti anak hilang yang lupa jalan untuk pulang. Aku baru pulang saat ayah sudah terbaring, setelah hampir dua setengah tahun tak menginjakkan kaki di beranda.

Kepulanganku itu bermuasal dari sebuah peristiwa yang tidak mengenakkan. Aku tiba-tiba terjerat rasa iba, tepat pada hari aku menerima gajian di bulan pertama kerjaku. Aku lalu mengirimkan uang dua ratus ribu rupiah lewat wesel buat ayah karena aku dengar ayah sudah mulai sakit-sakitan.

SEMINGGU setelah aku mengirim uang itu, ibu menelponku. Aku kaget, karena ibuku nyaris tak pernah menelpon. Aku pikir ibu akan bertanya soal kiriman uang itu. Tapi dugaanku ternyata salah. Ibu justru memintaku untuk segera pulang, karena ayah jatuh di kamar mandi. Pingsan.

“Cepatlah pulang!” pinta ibu dengan suara getir yang kudengar dari gagang telepon, serasa menguraikan air mataku di ujung kelompak mata untuk segera tumpah.

Setelah minta izin dari kantor, aku segera pulang. Tahu kalau ayah dirawat di rumah sakit, aku merasa tak perlu mampir ke rumah melainkan langsung ke rumah sakit. Ada rasa hampa tatkala aku memasuki halaman rumah sakit, menyusuri bangsal demi bangsal dan kemudian sampai di ruang ICU, di mana ayah dirawat.
Saat memasuki ruang ICU itu, rasa cemas membuatku gemetar. Aku merasa sedih, dan dalam hatiku tiba-tiba tebersit pikiran jika sampai ayah meninggal dan aku belum sempat meminta maaf, tentu aku akan menjadi anak durhaka.

Aku terus berjalan mencari kamar ayah yang terbaring tak berdaya dan desah nafas ayah sudah aku rasakan seperti naik turun di dadaku. Salah satu tangannya tertusuk jarum infus, sungguh serasa menyiksa urat nadiku. Ayah yang dulu gagah seketika seperti tak berarti lagi di depan anaknya yang sedang berjalan mau menjenguk.

Aku dengar pula ritmis napas ayah mirip gerimis yang turun di suatu senja, murung, sedih dan tidak bergemuruh ketika aku tiba-tiba menjumpai sebuah ruangan saat aku longokkan kepala dan menjumpai ayah sedang terbaring tidak sadarkan diri. Kening ayah penuh dengan kerut-marut, tanpa aroma, menguapkan kesedihan saat aku masuk dan duduk di ujung ranjang.

Aku termangu, menatap tubuh renta ayah yang sudah tak berdaya. Aku tahu ayah tak punya harapan lagi, dan air mataku serasa hampir tumpah. Setitik air mata penantian dari seorang anak yang pulang disambut dengan kebisuan karena ayah sudah tak sadarkan diri, terbaring mirip patung ketika aku datang mau menjenguk setelah nyaris dua setengah tahun tak pulang. Karena itu, ibu membiarkan aku terpaku meneliti wajah ayah.

Tetapi, tiba-tiba aku tergeragap setengah detik kemudian karena ibu berucap, “Kalau bisa, kamu jangan balik ke Jakarta dulu sampai ayahmu sadar dari siuman!”
Aku berpaling ke arah ibu, “Ya, Bu! Semoga ayah segera sadar.”
“Untung kakak sepupumu, Ahsanudin mau menanggung semua biaya rumah sakit. Aku tak lagi memikirkan dari mana kau mendapatkan uang!” lanjut ibu pelan, membuatku lega.

Lalu malam turun. Dari celah jendela, kulihat ada secercah cahaya yang merekas dari daun pohon akasia di halaman rumah sakit yang mulai gelap. Aku kemudian pamit kepada ibu untuk pulang ke rumah dan berjanji akan besuk kembali esok hari.

HUBUNGANKU dengan ayah, bisa dikata cukup unik. Aku anak kedua dari tiga bersaudara yang tidak ubahnya anak tiri. Ah, mungkin aku cukup sentimentil untuk menyebut anak tiri. Tetapi, aku tak memiliki ungkapan lain untuk menyebut hubungan musykilku dengan ayah. Mengharap perhatiannya, aku seperti menanti kematian saja. Aku tak berdaya.

Mungkin ayah tak salah. Dari cerita orang-orang kampung, dari pernikahan ayah dengan ibu memang tak segera dikarunia anak. Di usia empat tahun perkawinan yang nyenyat, siapa yang tak sedih tatkala lahir bayi yang ditunggu-tunggu, ternyata justru menghembuskan nafas tatkala ibu mengejan kesakitan. Anak pertama meninggal, anak kedua ayah pun bernasib serupa. Lalu, kakakku lahir ketika harapan ayah untuk menimang putra itu terkabulkan. Jadinya, kakakku dimanja ayah sampai setengah mati.

Ayah merasa ia sebagai lelaki tulen dan berjanji akan memenuhi setiap permintaan kakakku. Keberkahan itu juga membuat aku lahir lalu disusul adikku. Jadi kami tiga bersaudara, semua laki-laki. Tapi aku nyaris tumbuh tanpa perhatian. Kasih ibu dan ayahku hampir sepenuhnya jatuh pada kakakku dan adikku.
Kakakku menjadi lambang penyelamat keluarga karena setelah nyaris ayah tak dikaruniai anak dan adikku, karena ragil, juga selalu mendapat perhatian lebih. Aku terbengkalai, kalah. Apalagi kakakku jadi lambang kegagahan ayah dan adikku jadi lambang kasih sayang ibu.

Aku terjepit. Ayah selalu membela kakakku meskipun setiap kali bertengkar dengannya, aku yang benar. Jika bertengkar dengan adikku, ibu selalu berdiri di belakang ragil busuk itu. Aku? Jadi terbuang. Selalu kalah. Tidak ada pelindung, membuatku tidak betah hidup di rumah. Karenanya, saat aku beranjak remaja, aku menghabiskan malam di luar rumah. Aku pulang untuk makan siang dan tidur.

Ayah gusar. Aku cuek karena aku menemukan kehidupan yang membahagiakan di luar rumah meski penuh bahaya. Tapi hidup di luar rumah telah mendewasakanku sebagai lelaki yang tak gampang menangis. Dan, aku jarang diberi uang jajan oleh ayah, kecuali dengan cara yang menurutku tidak adil.

Agar betah tinggal di rumah, ayah mengajariku ketrampilan menjahit pakaian. Aku lalu digaji dengan uang sepadan dengan pekerjaanku yang tak seberapa. Berbeda dengan kakak-adikku, mereka tinggal menengadahkan tangan, tiba-tiba segalanya terpenuhi.

Lalu kakakku lulus SMU. Ayah melihatku bak anak durhaka. Sampai aku kemudian lulus dari SMU. Tak juga mendapat simpati ayah. Jadi, aku benci ayah setengah mati karena aku tidak mendapat perhatian. Tapi tiba-tiba semua berubah. Saat teman-teman mulai kerja dan menikah, aku melanjutkan kuliah, setelah menganggur satu tahun.

Lambat laun, menjalar rasa simpati ibu kepadaku. Apalagi, aku bisa kerja sambil kuliah di tahun kedua. Juga saat aku mendapat pekerjaan layak setelah lulus kuliah sementara kakakku dan adikku –yang juga lulusan sarjana– masih nganggur di rumah, menjadi beban keluarga.

SESAMPAI di rumah, malam sudah larut. Aku kemudian meminta adikku untuk menemani ibu berjaga di rumah sakit. Tak lagi kuasa untuk menahan kantuk, aku tertidur setelah sempat mengobrol sebentar dengan kakakku. Tetapi, sebelum rasa kantuk menerjang mataku, aku sempat berpesan untuk membangunku tatkala subuh bergema.

Tapi, betapa terkejutnya aku ketika kakakku menggoyang-goyang tubuhku di pagi yang buta itu. Aku tergerap, dan bertanya, “Apa sudah subuh?” Aku merasa mataku masih belum cukup terpejam, dan belum juga kudengar adzan berkumandang.
“Subuh bagaimana? Ayah sudah tiada!”
Deg! Hatiku ciut. Langit-langit gelap. Aku melangkah ke kamar mandi. Membasuh muka. Lalu, ke ruang tamu, menyambut kedatangan jenazah ayah.
Tak selang lama, jenazah ayah tiba. Keluargaku sudah berkumpul, membopong jenazah ayah masuk ke dalam rumah. Sekilas, aku lihat kakak sepupuku, Ahsanudin duduk di teras. Aku tahu ia baru tiba dari rumah sakit, tentunya setelah melunasi biaya perawatan ayah. Aku melangkah, menyalaminya.
“Untung kau cepat tiba! Jadi, keluarga tak perlu repot-repot menunggumu untuk pemakaman nanti,” ucapnya prihatin seraya menggapit tanganku.
“Aku selalu memikirkan ayah, mas! Apalagi sejak kerja dan belum bisa membantu keluarga.”
Hatiku sungguh pedih, ketika itu. Rupanya, dia tahu apa yang ada di dalam pikiranku. Aku sungguh menyesal belum membalas jasa ayahku, baru bisa mengirimi uang dua ratus ribu, yang sama sekali tak ada artinya bagi ayah.
Tidak ada angin, tak ada hujan, kakak sepupuku bangkit. “Dengan kata lain, kau tidak akan pernah dapat membalas jasa ayahmu meski dengan apa pun.”
Aku termangu. Di cakrawala, kulihat subuh belum merekah. Dan aku menunggu khitmad ayah dikuburkan di siang itu.
GENAP seminggu setelah pemakaman, aku membersihkan kamar ayah. Ibu menyuruhku agar beliau tak terbayang mendiang ayah. Tetapi, ketika aku membuka almari, tempat ayah menyimpan uang, aku tersentak karena menemukan dua lembar uang seratus ribuan, tergeletak penuh dengan debu. Aku berteriak kencang, memanggil-manggil ibu.
Sekitar setengah menit kemudian, di ambang pintu, ibu membuatku tersentak kaget, “Kamu pasti menanyakan tentang uang itu?”
“Kenapa uang itu masih utuh dan belum disentuh ayah, Bu?”
“Ayahmu tak mau menggunakan uang itu untuk membeli obat meski dia sedang sakit di ujung usianya. Aku harap kamu tidak kecewa menemukan uang itu masih utuh!”
Aku termangu, lalu duduk lemas di tepian ranjang. Aku sungguh tak tahu, kenapa ayah masih menganggapku seperti orang lain. Apa aku ini bukan anaknya?

Senin, 05 November 2012

Aku Datang Bersama Lautan



Sambil mendengar lengking burung kematian, aku berdiam di altar langit, bersiap melanjutkan kembali pekerjaanku. Mataku terus saja menyapu tiap adegan yang dipertontonkan Allah; sukma-sukma yang meronta, nafas yang terkubur lumpur, muka yang jengah, mata yang terbelalak, penuh dengan sobekan-sobekan kejadian, seakan tak sanggup menampung kecemasan tentang lautan yang tak lagi ramah. Marah! Kemudian aku melayang-layang di tengah himpitan ketakutan mereka dan aku mengintip sepasang lelaki dan perempuan sedang sibuk dengan kalimat-kalimat.

“Inong, mana Inong, Tengku? Agam, mana Agam, Tengku? Jangan biarkan mereka berdiri di tepi lautan lagi. Jangan biarkan mereka terus berkelakar di tepi lautan lagi, Tengku.”
Seorang lelaki yang dipanggil Tengku tak mau menatap istrinya lagi. Ia tak kuasa. Ia terus bertasbih mengarah kiblat. Komat-kamit doa ia layangkan kepada Allah. Aku sendiri melihat panah doa itu melesat ke arah langit, namun terbentur sesuatu, dan panah doa itu tak lagi punya sayap, kembali ke tanah, berakhir menjadi abu.

“Tengku, ayo cepat bediri, kita tak punya lagi waktu untuk diam. Orang-orang sudah berlari ke tenda-tenda pengungsian. Orang-orang sudah meninggalkan kita. Oh Agam, oh Inong, di manakah kalian berada? Sudah lenyapkah diterkam lautan atau kalian telah selamat, pergi ke tempat-tempat pengungsian bersama mereka? Apakah kalian membawa pakaian, mi instan dan buku-buku pelajaran? Di tenda pengungsian itu kalian harus tetap sekolah agar menjadi orang berilmu. Inong, boneka kesayanganmu masih di sini. Sudah berlumur lumpur, tapi masih lucu seperti katamu. Inong, ibu akan membawakan boneka ini untukmu, sayang.”
“Agam, pistol-pistolanmu juga masih di sini. Ah, ibu masih ingat kalau besar nanti cita-citamu ingin menjadi tentara kan? Cita-citamu itu akan terwujud anakku dan engkau akan membasmi tiap penjahat, persis seperti katamu. Ibu akan membawakan juga untukmu, semoga kita bertemu dengan segera. Tengku, ayo Tengku. Cepat beranjak dari tempat ini. Sebentar lagi lautan akan datang kembali dan kita akan dimangsa dengan segera. Ayo!”

Perempuan itu menjamah tangan Tengku dan menarik-nariknya. Namun lelaki itu tetap saja tak mau memalingkan muka. Ia tetap bertasbih. Cucuran air mata lembut mulai menganak sungai di pipinya. Airmatanya memang tidak ganas seperti lautan yang marah, yang mereka lihat sebelumnya, tapi air mata itu telah membuatku lupa akan tugas yang seharusnya kukerjakan. Airmata itu telah menenggelamkan niatku untuk mengajaknya ke negeri akhirat.

“Tengku, segeralah beranjak dari tempat dudukmu. Sudah waktunya kita berlari. Dengar, aku mendengar kembali kegaduhan di sana. Orang-orang menjerit histeris. Derap langkahnya aku dengar, Tengku. Bukankah kau mendengarnya pula? Mereka sedang dimangsa lautan dan kita pun harus segera menjauh dari tempat ini. Bila tidak, kita akan sama seperti orang-orang yang mendahului kita. Aku tak mau mati hari ini, Tengku. Tapi aku juga tak mau meninggalkanmu. Jadi, marilah kita sama-sama melangkahkan kaki.”
“Kita cari Inong dan Agam. Aku tak mau mereka menangis, aku tak kuasa mendengar mereka merintih mencari-cari kita. Mainan mereka sudah ada dipangkuanku, waktunya untuk memberikan boneka dan pistol-pistolan. Mereka akan terhibur dengan mainan ini, Tengku. Segeralah beranjak dari tempat ini. Lekas. Apa sebenarnya yang kau tunggu? Lautan itu? Oh, tidak. Engkau menunggu lautan itu rupanya. Aku tak mau menunggu lautan. Aku tak mau berperang dengan lautan. Kita akan mati mengenaskan. Lautan terlalu gagah untuk dikalahkan. Lautan terlampau bengis untuk ditaklukan.”

“Aku tak menunggu lautan, Cut Nyak.” Akhirnya suara lelaki itu pun mulai terdengar kendati terbata. Aku tetap khusyuk mengintip obrolan mereka, benar-benar lupa dengan pekerjaanku.
“Lantas jika tak menunggu apa-apa, mengapa engkau masih termenung di tempat ini. Aku tahu engkau meminta pertolongan Allah, tapi bukankah kita bisa bertasbih di tempat lain, di tempat yang aman?”
“Nyut Nyak, bertasbih tidak mengenal tempat dan waktu. Lagi pula, di manakah tempat yang aman itu? Di tempat aman mana yang engkau maksud, istriku? Di tenda-tenda pengungsian itu? Di sana aku rasa dia tak mau datang, terlalu banyak orang, terlalu banyak suara-suara. Lagi pula aku tidak merasa terancam. Takdir tak pernah membuatku terancam. Takdirlah yang membuat hidup kita menjadi aman, Cut Nyak.”
“Apa maksudmu, Tengku? Jadi engkau menunggu seseorang? Siapa? Gubernur? Mentri-mentri? Presiden? Siapa Tengku? Jelaskan kepadaku dengan segera. Kau dengar, kini derap langkah orang-orang tak lagi bersuara, sudah sirna. Suara-suaranya digantikan dengan debur lautan yang pernah kita dengar sebelumnya, yang memisahkan kita dengan Inong dan Agam. Oh, Tengku, suara lautan yang samar-samar itu mulai merambat di telingaku, di telingamu juga kan? Tengku, mari kita pergi dari tempat ini. Suara kematian sudah mulai memburu kita. Deburan keras itu siap mengancam jiwa kita. Aku tak mau mati di sini, Tengku. Inong dan Agam masih membutuhkan kita. Boneka dan pistol-pistolan belum sempat aku berikan.”
“Dia akan datang bersama lautan. Aku sudah merasakannya, Cut Nyak. Tunjukkan wajahmu, tunjukkan wajahmu.”

“Siapa yang akan datang bersama lautan, Tengku? Hanya, hanya malaikat kematian yang datang bersama lautan. Hanya dia yang akan menemani lautan. Mengangkat ruh kita menuju semesta akhirat.”
“Betul Cut Nyak. Malaikat maut yang aku tunggu.”
“Apa? Jadi engkau ingin mati, Tengku? Kau ingin kita mati? Tidak, Tengku. Jangan lakukan itu. Ayo kita pergi. Aku tidak mau bertemu dengan malaikat kematian, aku ingin selamat. Masih ada Inong dan Agam yang harus kita rawat, masih ada harapan yang menunggu kita di masa depan. “Masa depanku sudah berada di hadapanku. Tak berapa lama lagi aku akan bertemu dengan lautan, berjumpa dengan malaikat maut. Keselamatanku berada di tangannya.”
“Ya Allah, air sudah mulai nampak. Lihat, Tengku. Lautan itu begitu ganas dan aku tak bisa berdiam di tempat ini. Lupakan malaikat maut. Mari pergi bersamaku. Kita cari Inong dan Agam.”
Perempuan itu mencoba untuk menarik tangan Tengku berkali-kali. Akhirnya Tengku berdiri, kemudian memeluk istrinya dengan lembut dan mencium keningnya berkali-kali. Wajahnya nampak berseri. Senyum hangatnya membuat Cut Nyak merasa aneh. Lalu akupun menampakan diri dari persembunyianku. Tengku menundukan wajahnya penuh rasa takzim, sementara Cut Nyak menantang dengan sorotan matanya yang tajam dan penuh pertanyaan-pertanyaan.
“Assalamualaikum,” sapa Tengku.
“Waalaikum salam,” jawabku lirih.
“Jadi engkau yang bernama malaikat kematian?”
Nada suara Cut Nyak yang tercekik membuatku terhenyak.
“Aku ingin membawa suamimu ke negeri akhirat.”
“Tidak!”
“Cut Nyak!” hardik Tengku.

Cut Nyak kini berada di depanku dengan sorot mata menantang. “Wahai malaikat maut, jangan engkau renggut suamiku. Betapa aku begitu menyayanginya. Aku tak tahu lagi apakah aku masih bisa hidup tanpa suamiku. Tidak. Aku tak mungkin bisa hidup tanpa suamiku. Jadi bawalah aku serta bersamanya. Pergi ke negeri akhirat.”
“Aku tak bisa berdamai dengan takdir. Aku hanya menjalankan tugas,” jawabku.
Tengku mencoba untuk memegang bahu Cut Nyak yang mulai menggigil menahan tangis, namun tangannya ia tepis. Kini air mata itu pun mengalir dan Cut Nyak menangis sejadi-jadinya.

Setiap kali aku menjalankan tugas, aku selalu diiringi tangis. Tangisan-tangisan itu sudah biasa aku lihat dan kerap kali memohon agar menunda pekerjaanku, tapi sekali lagi, aku tak bisa berdamai dengan takdir. Takdir adalah hukum yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugasku, pun ini kali.
“Jika engkau tak mau mengajak serta aku, maka tundalah ajakanmu kepada suamiku. Ajaklah lautan itu pergi ke tempatnya, jangan mampir ke tempat ini, jangan biarkan menerkam suamiku. Aku tak sudi kehilangan suamiku.”

Dengan bahasa cinta, Tengku merengkuh kekasihnya,
“Cut Nyak kekasihku, bersetialah dengan takdir. Kita hanya berpisah barang sesaat. Lagi pula lautan itu tidak akan menerkamku. Ia hanyalah kendaraan yang diutus Allah, yang akan membawaku ke sana, ke masa depanku. Masa depanmu adalah mengasuh Inong dan Agam. Sampaikan salamku kepada mereka.”
“Lalu bagaimana jadinya masa depanku tanpa dirimu, Tengku? Masa depanku akan suram tak berkesudahan. Masa depanku akan legam seperti malam. Masa depanku tandas tanpa cintamu.”
Dari arah kejauhan, suara-suara bocah memanggil-manggil mereka. Suara polos tak berdosa mengajak naluri keibunya meninggalkan Tengku seorang diri. Cut Nyak langsung menuju suara itu. Dipeluknya Inong dan Agam, boneka dan pistol-pistolan tak lupa ia berikan.

Kini, aku pun menyelesaikan tugasku. Lautan merengkuh jasad Tengku, aku memapah ruhnya, pergi meninggalkan Cut Nyak, Inong dan Agam. Sekali lagi, tangisan-tangisan mengajakku berdamai dengan takdir.

HARI INI ADA YANG MATI LAGI



Sepulang dari menunaikan shalat subuh di mushalla, Pipin memasuki rumahnya yang hanya bertiang bambu dan beralaskan tanah. Dulu ruangan itu disebut kandang sapi. Sekarang dua ekor sapi warisan kakeknya itu telah tiada. Ayahnya telah menjualnya untuk menebus segala keperluan hidup dari mulai untuk keperluan sekolah anak-anaknya, biaya perawatan ketika emak sakit tulang hingga keperluan sehari-hari.
Lambat laun karena merasa terpepet ekonomi, orang tuanya memutuskan untuk menjual rumah dan memilih bekas kandang sapi sebagai tempat tinggal. Tak nyaman memang. Tetapi hidup ini tak pernah menyodorkan pilihan lain. Dan hidup tetap tak banyak berubah. Toh nyawa emaknyapun tak bisa tertolong juga.
Sebagai anak tertua dari dua bersaudara, Pipin ingin sekali meringankan beban orang tuanya dengan bekerja apa saja. Tetapi sebagai anak lulusan SMP, dia tak bisa berbuat banyak. Sedangkan untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SMU saja dia tak tega untuk membujuk ayahnya yang kini bekerja sebagai penggali kubur itu untuk membiayainya.

Pipin menghempaskan tubuhnya ditikar disudut rumah. Kemudian Tiwi, adiknya nampak bersiap-siap pergi sekolah dengan seragam putih merahnya. Tak ada secangkir teh apalagi sarapan. Semua anggota keluarga tampak sudah terbiasa dan maklum. Ayahnya tampak sedang bersiap-siap untuk menjalankan tugasnya. Tadi malam Pipin memang mendengar bunyi cangkul yang bergerak-gerak. Pertanda cangkul itu akan segera menggalikan kubur untuk seseorang. Pertanda ayahnya akan mendapat sedikit uang untuk membeli beras dan yang pasti akan ada nasi kardus tahlilan yang akan dapat dinikmati malam nanti.

“Siapa yang meninggal, Pak?” tanya Pipin pelan. “Sumirah, isteri Pak Harno tadi malam meninggal karena terkena flu burung. Syukurlah kita tak punya uang untuk membeli daging ayam sehingga kita terbebas dari flu burung itu,” jawab ayahnya lugu.

Sang ayah pun berangkat untuk menggali kuburan. Tiwi berangkat ke sekolah dan Pipin bersiap-siap ke tempat Bu Hardoyo untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Semejak lulus SMP, Pipin memang merelakan diri untuk menjadi pembantu rumah tangga di keluarga Hardoyo yang tinggal di perumahan seberang kampungnya. Dulu uang tersebut bisa membantu ayahnya untuk membeli beras dan keperluan sehari-hari serta cukup. Tetapi, sejak BBM naik, semua harga barang menjadi naik. Pipin dan ayahnya harus rajin-rajin berhemat agar bisa makan sampai akhir bulan.

Klothek. Klothek. Kletehek. Bulu kuduk Pipin berdiri. Dia sudah sering mendengar bunyi cangkul ayahnya di tengah malam, tapi tetap saja bulu kuduknya berdiri. “Berarti besok akan ada yang meninggal lagi,” pikir Pipin sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh Tiwi yang tidur nyenyak.

Benar! Keesokan paginya, seorang lelaki berpeci menjemput ayahnya untuk menggali kuburan. “Mbah Minem meninggal ketika antri mengambil uang kompensasi BBM di kantor Pos, Pak,” kata lelaki itu. Kenaikan BBM memang banyak menyisakan masalah. Tunjangan salah sasaran, perangkat kelurahan dikeroyok rame-rame karena tak becus mendaftar warga miskin, sampai kematian mbah Minem pagi ini, semuanya membuat Pipin semakin sesak nafas.

Sebenarnya Pipin heran dan bertanya-tanya kenapa ayahnya tak terdaftar sebagai penerima subsidi. Tetapi ayahnya yang memang tak pernah neko-neko itu bilang bahwa ia malu kalau harus protes ke kelurahan. “Mungkin kita masih dianggap sedikit lebih mampu dari orang lain, Pin. Buktinya kau masih bisa bekerja,” begitu ayahnya menasehatinya.

Dengan segera, kedua lelaki itu berjalan beiringan menuju kuburan. Ayahnya akan menggali kubur lagi. Tetapi kali ini nampaknya harus benar-benar ihlas karena Mbah Minem hidup sebatang kara dan penduduk sekitar harus rela bahu membahu mengurus kematiannya. Malam harinya tak sama dengan malam kemarin yang bisa menyantap nasi hasil tahlilan. Kali ini Pipin, Tiwi dan ayahnya hanya bisa makan bubur dan garam. Kali ini tak seorangpun mengirimkan makanan ke rumah ayahnya. Tahlilanmemang tetap diadakan, tapi di musholla dan tanpa makanan.

Merekapun terlelap. Dan, ‘klethek klethek’ bunyi cangkul terdengar lagi. Pipin tersentak dari tidurnya. Segera dia menutup kupingnya rapat-rapat, dan kembali memeluk Tiwi erat-erat. Pagi-pagi, kembali ayahnya sudah dijemput oleh beberapa orang pemuda. Apalagi kalau bukan urusan penggalian kubur. “Pak Haryo meninggal terserempet mikrolet!” kata seorang pemuda dengan wajah muram.
“Kasihan Pak Haryo. Dia yang biasanya naik mikrolet untuk menuju pabriknya terpaksa jalan kaki untuk menghemat uang transportasi, eh malah terserempet mikrolet,” timpal pemuda yang lain. Ayahnyapun pergi bersama pemuda-pemuda itu untuk melaksanakan tugasnya. Pak Haryo juga salah seorang penduduk yang tak mampu. Tak ada harapan ayahnya untuk membawa upah hasil penggalian kuburnya.
“Kita harus ikhlas, Pin. Orang-orang kecil seperti kita ini harus saling membantu. Bapak juga berharap kalau meninggal nanti akan ada orang yang mau menggalikan kubur bagi bapak walau kamu tak mampu membayarnya,” kata ayahnya sambil menelan bubur garam buatan Pipin.
“Kapan ada orang kaya yang meninggal ya, Pak?” Tiwi nyeletuk.
“Hus! Ndak baik mengharapkan kematian orang hanya karena kita ingin upah atas penggalian kuburnya,” tukas ayah tampak tak senang.

Tiwi terdiam. Matanya menerawang. Pipin tahu sudah seminggu ini adiknya merengek, ingin sekali ikut piknik bersama teman-teman sekelasnya ke Borobudur. Tetapi, tentunya Tiwi tahu dalam keadaan ekonomi yang serba susah seperti ini, impiannya tak bakalan terwujud. Jangankan ikut piknik, sedang uang seragam sekolahpun belum terbayar. Ingin sekali Pipin mewujudkan semua impian adiknya. Tetapi Pipin tak tahu caranya. Dipandanginya wajah adiknya yang pelan-pelan mulai menuju alam mimpi,
Klethek. Klethek, Klethek. Klethek. Cangkul dan keranda berbunyi lagi. Serta merta Pipin dan ayahnya berpandangan.

“Tidurlah!” Ayahnya mencoba mengalihkan perhatian Pipin. Pipin mencoba tertidur sambil mengira-ira giliran siapa gerangan yang akan dijemput malaikat Izrail.

Pagi ini tak ada seorangpun yang menyusul ayahnya untuk menggali kuburan. Berarti belum ada kematian. Siapakah yang akan meninggal hari ini? Pikir Pipin. Tetapi Pipin segera melupakan bunyi cangkul ayahnya tadi malam. Tiwi berangkat ke sekolah. Ayahnya memulai aktivitas bersih-bersih rumah dan Pipin berangkat ke rumah Bu Hardoyo untuk bekerja.

Seperti biasa, Pipin langsung menuju tumpukan baju kotor untuk dicucinya. Bu dan Pak Hardoyo segera menuju ke tempat kerjanya dengan vespa merah meninggalkan Pipin dengan segala urusan cuci mencuci, bersih-bersih rumah dan menanak nasi. Pipin mulai menata baju-baju kotor ke dalam bak cucian. Ada jaket, celana dalam, BH, rok, hingga celana panjang. Tiba-tiba Pipin merasa ada sesuatu yang mengganjal di saku celana panjang milik Pak Hardoyo. Pipin memasukkan tangannya ke ke saku celana itu. Uang! Dua lembar ”lima puluhan ribu” dan empat lembar “sepuluhan ribu”. Diambilnya uang itu dan di letakkannya di meja makan.

Pipin kembali sibuk dengan aktivitas mencucinya. Tiba-tiba wajah Tiwi terlintas di benaknya. Wajah rembulan yang dikurung awan lantaran kesedihannya tak bisa ikut piknik bersama teman-temannya. Seketika juga Pipin ingat uang temuannya itu. Cepat-cepat dia menuju meja makan dan dimasukkannya uang itu ke saku bajunya. Tetapi kemudian dia juga ingat ayahnya. Ayahnya pasti akan marah besar kalau tau dia mengambil uang orang. Pasti ayahnya akan kecewa. Pipin tak sanggup membayangkan kekecewaan ayahnya.

Pipin buru-buru meletakkan uang tersebut di meja makan lagi. Begitulah hati Pipin diliputi keraguan sehingga ia bolak-balik dari sumur ke meja makan untuk mengambil dan mengembalikan uang tersebut. Tak akan ada orang tau tentang ini. Pak Hardoyo itu orang yang sangat ceroboh. Tak mungkin dia ingat kalau sudah menyimpan uang di saku celananya. Pak Hardoyo saja tak tahu apalagi ayahmu.
Tetapi, bagaimana kalau tiba-tiba Pak Hardoyo ingat uang itu dan tau kalau kau yang mengambilnya? Keluarga Hardoyo akan memecatmu! Mau makan apa nanti keluargamu? Ah kalau nanti keluarga Hardoyo bertanya masalah uang itu, aku kan bisa pura-pura tak tahu, pasti tak tak akan ketahuan. Dan lihatlah, betapa mata Tiwi akan berbinar-binar melihat kau membawa uang untuk pikniknya. Bukankah sudah lama kau tak melihat keceriaan Tiwi?
Cepat-cepat dimasukkannya uang itu ke kantong bajunya. Pipin tak mau menimbang-nimbang lagi. Dia takut pikirannya akan berubah.

Sore hari Pipin kembali ke rumahnya setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga keluarga Hardoyo dan pamit dengan Bu Hardoyo dengan agak sedikit gugup. Dengan langkah riang dia mencari-cari Tiwi. Tiwi belum ada di rumah. Pipin menanti kedatangan Tiwi dengan tak sabar. Malampun datang menyelimuti kampungnya. Tiwi belum pulang juga. Pipin dan ayahnya mulai panik. Mereka segera mencari ke rumah teman-temannya. Tak seorangpun mengetahui keberadaan Tiwi.

Tepat jam sepuluh malam. Penjaga sekolah Tiwi datang mengabarkan Tiwi ditemukan tewas dalam gantungan di kamar mandi sekolah! Pipin teringat bunyi cangkul ayahnya tadi malam. Rupanya yang meninggal hari ini adalah Tiwi! Pipin menjerit ketika tubuh Tiwi yang sudah tak bernyawa itu dibawa ke rumahnya. Dirabanya uang haram yang ada di sakunya yang ternyata tak bisa membahagiakan adiknya.
Bunyi ‘klethek klethek’ cangkul ayahnya didengarnya semakin keras saja. Hari ini giliran kuburan Tiwi yang dicangkul oleh ayahnya. Pipin berharap, besok siang ayahnya akan menggali kubur untuknya.

Jumat, 02 November 2012

IMPIAN YANG TERBADAI



Hari masih pagi. Masih sangat pagi. Matahari pun belum menampakkan sinarnya. Usai menunaikan sholat subuh di masjid, Yazid segera menukar sarung dan baju kokonya dengan baju olah raga. Ia memang biasa melakukan senam sebelum berangkat kerja.

Dengan langkah-langkah penuh semangat, Yazid keluar dari kamar tidurya. Tapi sampai di ruang tamu, langkahnya terhenti. Sesaat Yazid menatap kalender yang terpajang di dinding dan batinnya menghitung: tujuh hari lagi. Ah, akhirnya akan sampai juga bahtera cintaku berlabuh pada mahligai rumah tangga, pikirnya kemudian. Tidak sia-sia perjuanganku selama ini. Tidak sia-sia. Segala pengorbanan, baik perasaan, waktu, moril juga materiil, semuanya impas sudah. Karena tujuh hari lagi, Mirsa akan resmi menjadi istriku!
HP di saku celana training Yazid berdering dua kali. Yazid pun mengambilnya. Sebuah SMS masuk. Dari Mirsa, calon istrinya: Bang Yazid, mendekati hari H, hatiku makin berbunga. Aku sangat bahagia, bakal menjadi istri Abang.Yazid tersenyum. Ia merasa pun merasa bahagia. Lalu, ia melangkah ke halaman depan rumahnya, untuk senam pagi

Jalinan awal cinta keduanya tidak mudah. Faktor keluarga yang dominan dan karakter Mirsa yang masih labil, itulah penyebabnya. Dulu, semasa SMA, Yazid adalah playboy. Gonta-ganti pacar adalah hobinya.”Hobimu itu nggak baik, Yazid,” nasehat temannya, Rajali.

Tapi Yazid tak ambil peduli. Petualangan cinta itu terus ia lakukan dan baru berhenti kala ia lulus dari SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi di Yagyakarta. Di awal-awal kuliah Yazid memang enggan untuk pacaran. Ia ingin secepatnya menuntaskan kuliahnya. Ia telah begitu berpengalaman berpacaran; ya manisnya, ya pahitnya. Karena itu ia punya keyakinan, bila kuliah disambi pacaran ala masa SMA dulu, target untuk bisa cepat selesai kuliah itu tak akan terpenuhi. Maka, belajar dan belajarlah kegiatan Yazid setiap hari.

Hatinya tak pernah bergetar, meski kini kembang-kembang di kampusnya lebih beragam keindahannya. Semua ia anggap sebagai teman, walau ada beberapa cewek yang mencoba mendekatinya. Hatinya seakan beku. Ia pun mendapat julukan baru: BINTANG YANG BEKU. Karena ia tampan, pandai, tapi begitu dingin terhadap wanita. Tapi hal itu rupanya tidak berlangsung terlalu lama. Memasuki semester empat, tekadnya untuk tidak pacaran itu luntur. Masih jelas dalam ingatan Yazid, kali pertama ia berjumpa dengan Mirsa. Kala itu ada pameran buku-buku islami yang diselenggarakan oleh IKAPI. Sebagai mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan, Yazid tak melewatkan pameran buku itu. Stand penerbit demi stand penerbit ia kunjungi dan dua buah buku telah ia beli.

Dan, ketika sampai pada stand penerbit yang terakhir, yang paling sepi pengunjungnya, Yazid terkesima! Di sana ada seorang gadis berjilbab tengah asyik membaca sebuah majalah. Wajahnya begitu anggun, tegas dan aristokrat, seperti gambaran wajah Tjut Njak Dhien di kala muda! Untuk pertama kali sejak kuliah, hati Yazid bergetar. Dan setelah dapat menenangkan debar jantungnya, dengan keberanian seorang mantan playboy, ia hampiri gadis itu.

“Hem, asyik sekali mbacanya,” tegur Yazid ramah.
Sang gadis sedikit tersentak, lalu segera mengarahkan tatapannya ke arah asal suara. Dan, tatkala ia melihat seorang perjaka yang tak dikenalnya berdiri di sana, ia hanya sekilas tersenyum, lalu kembali asyik membaca. Merasa mendapat angin, Yazid makin berani.
“Dari Aceh ya, Mbak?” tanyanya.
Sang gadis terusik. Ditutupnya majalah itu dan dikembalikan ke rak tempat asalnya.
“Lho, kok tahu?” sang gadis tersenyum lebar.
Duh senyum itu…, bikin jantung Yazid kelabakan.
“Ya, wajah Mbak mirip Tjut Njak Dhien sewaktu muda.”
“Ah, Mas bisa aja.”

Lalu, pembicaraan keduanya berjalan lancar. Yazid pun akhirnya tahu, sang gadis bernama Mirsa, Cut Mirsa. Saat ini ia sedang kuliah di Akademi Perawat. Dan yang paling menyenangkan Yazid, Mirza ternyata berasal dari daerah yang sama dengannya; Banda Aceh!

Maka, untuk hari-hari berikutnya Yazid sering bertandang ke tempat pemondokan Mirsa. Kemudian, cinta pun bersemi di hati sejoli anak muda itu.

Ketika masa libur kuliah tiba, Yazid pulang kampung bersama Mirsa. Dan, sudah barang tentu, Yazid berkunjung ke rumah Mirsa untuk mengenal keluarganya lebih dekat. Dan, alangkah terkejutnya Yazid, tatkala tahu Mirsa itu ternyata adik Rajali!

“Kenapa selama ini aku tak pernah tahu?” tanya Yazid terheran-heran.
“Sejak SD, saya sudah di pesantren, Bang,” Mirsa menjelaskan.
“O, pantas,” Yazid mengangguk-angguk. Mahfum.
“Kau adik Rajali yang ke berapa?” tanya Yazid pula.
“Keempat. Yang terakhir.”
“Jadi kau anak bungsu?”

Kali ini Mirsa yang mengangguk.
Beberapa saat kemudian Rajali keluar, menemui Yazid. Lalu keduanya pun terlibat pembicaraan masalah kuliah masing-masing. Dan Rajali yang paling banyak bertanya. Maklum, Rajali tidak keluar dari Banda Aceh. Ia kuliah di Perguruan Tinggi yang ada di Banda Aceh.

Ketika dua kawan lama itu asyik terlibat dalam pembicaraan, Mirsa pamit, masuk ke dalam. Dan, beberapa saat kemudian, Rajali terang-terangan mengatakan, bahwa ia tidak suka bila Yazid memacari adiknya. Alasan Rajali, karena ia tidak mau adiknya jadi korban sifat playboy Yazid. “Kau jangan samakan aku seperti masa SMA, Ali,” kata Yazid sungguh-sungguh. “Sifat playboy itu telah aku buang jauh-jauh.”
“Ah, aku belum yakin,” sela Rajali — yang biasa dipanggil Ali itu. “Aku mohon, jauhi Mirsa. Biar dia dapat merampungkan kuliahnya dengan baik.” Yazid diam, tak berkomentar. Badai tengah menghantam jalinan cintanya. Tapi, apakah Mirsa sejalan dengan pikiran kakaknya? Hal itu tentu harus ditanyakan langsung pada Mirsa, usai liburan kuliah, di Yogya nanti.

Dan, ternyata, Yazid harus menelan pahitnya empedu. Karena cinta Mirsa goyah, seusai masa libur kuliah itu.
“Bang, aku harap ini kunjunganmu yang terakhir ke pondokanku,” ucap Mirsa malam itu.
“Kenapa Mirsa?” kening Yazid berkerut.

“Karena aku ingin sepenuhnya konsentrasi kuliah, agar dapat selesai tepat waktu.”
“Mirsa, aku ingin kau bicara jujur. Apakah kau telah dilarang oleh kakakmu berpacaran dengan aku?” desak Yazid.

Mirsa diam. Yazid pun yakin, pikiran Mirsa telah diracuni oleh kakaknya. “Di masa SMA dulu, aku memang playboy, Mirsa,” ucap Yazid serius. “Tapi percayalah, kini aku sudah berubah!”
Mirsa tetap diam.

“Oke, aku permisi pulang. Tapi aku harap, kau dapat mencerna dengan jernih ucapanku yang terakhir itu,” tukas Yazid penuh permohonan. Tapi ternyata Mirsa tidak berubah. Ia tetap menolak berpacaran dengan Yazid. Maka Yazid pun kembali sendiri, kembali enggan untuk pacaran, sampai rampung kuliahnya.
Tahun-tahun telah berlalu silih berganti. Yazid sudah cukup lama balik ke Banda Aceh dan bekerja di sebuah bank swasta, dengan posisi yang cukup mapan. Sore itu ia datang ke rumah sakit, membezuk kakak pertamanya yang baru melahirkan. Tak diduga, Yazid berjumpa dengan Mirsa.

Mengenakan seragam putih sebagai suster, Mirsa tampak semakin ayu dan anggun! Hati Yazid pun kembali bergetar.

“Bezuk siapa, Bang?” tanya Mirsa ramah.
“Kakak pertamaku, melahirkan anaknya yang ke-2. Kau kerja di sini, Mir?” tanya Yazid.
Mirsa mengangguk. “Begitu selesai kuliah, aku langsung diterima bekerja di rumah sakit ini. Dan Abang kerja di mana?”
“Sesuai dengan disiplin ilmu yang aku miliki, aku dapat kerja di bank.” “Wah, hebat tuh, Bang,” puji Mirsa.
“Ah, biasa aja.”
“Oya Bang, main-main dong ke rumah,” cetus Mirsa tiba-tiba.
Yazid tersenyum. “Nggak, ah. Aku takut pada kakakmu, Rajali,” ucap Yazid.
“Nggak uasah takut, Bang. Karena sekarang Bang Rajali sudah menikah dan sudah menempati rumah sendiri bersama istrinya.”
“Oya? Kapan?” kening Yazid berkerut.
“Setahun yang lalu…”
“Mm…,” Yazid mengangguk-angguk. “Baiklah. Malam Minggu nanti aku main ke rumahmu, ya?”
“Oke. Saya tunggu.” senyum Mirsa.

Itulah awal keduanya kembali menjalin cinta; hingga akhirnya keduanya sepakat untuk menyempurnakan jalinan cinta itu dengan melangkah ke jenjang pernikahan.
Ketika hari beranjak siang, Yazid sudah siap untuk berangkat kerja. Satu kartu undangan ia selipkan di tas kerjanya. Itu kartu undangan yang terakhir, yang akan ia sampaikan pada Haji Muslih, pada siapa ia belajar mengaji ketika kecil dulu. Dan, kini ia berharap Haji Muslih bersedia memberi tausiah di hari pernikahannya nanti.

Sebelum ke kantor, Yazid mampir dulu ke rumah Haji Muslih untuk menyampaikan undangan itu. Saat berbincang-bincang itulah, tiba-tiba ada gempa bumi yang cukup dahsyat.
“Yazid, kau jangan berangkat kerja dulu,” cegah Haji Muslih. “Mari kita berdoa bersama di masjid. Firasat saya mengatakan, akan ada gempa susulan yang lebih dahsyat.”
Yazid menuruti saran itu. Rumah Haji Muslih memang dekat dengan masjid.

Firasat Haji Muslih ternyata terbukti benar. Saat Haji Muslih, Yazid dan beberapa orang lagi tengah berdoa di dalam masjid, tiba-tiba gelombang Tsunami setinggi empat meter datang menerjang, memporak-porandakan segalanya. Segalanya!!!

Wilayah-wilayah yang diterjang gelombang Tsunami, rata dengan tanah, semuanya kembali ke titik nol! Kecuali masjid-masjid yang tetap berdiri kokoh. Karena itu Haji Muslih, Yazid dan beberapa orang yang ikut berdoa di dalam masjid itu, selamat. Di luar itu, semuanya hancur berantakkan! Begitu pula dengan rencana pernikhan Yazid! Karena Mirsa ikut tewas diterjang gelombang Tsunami.Yazid bersedih. Yazid menangis. Tanpa air mata. Karena air matanya telah kering. Tapi sebagai orang beriman, ia masih ingat akan Kemahaperkasaan Allah SWT. Maka, dengan suara bergetar ia berucap, “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

(Dengan segenap cinta dan simpati untuk warga Aceh dan Sumatra Utara).

Kisah Ibu dan Anak

Suatu hari Syaikh DR.Muhammad Al-’Arifi mengisahkan salah seorang sahabatnya yang suatu ketika bepergian bersamanya naik mobil di Jeddah. Sahabat Syaikh ternyata mengajak dua orang anaknya yang kira-kira berumur 4 dan 5 tahun. Syaikh tahu bahwa sahabtanya ini bukanlah orang yang taat beragama, namun ktika mobil naik ke jalan layang, serempak anak-anaknya bertakbir.

Ia tahu, bahwa Rasulullah SAW dalam perjalanan bila menapaki jalan mendaki beliau bertakbir dan bila menuruni lembah beliau bertasbih. Rupanya anak-anak tersebut faham bila mobil sedang menanjak disunnahkan untuk takbir, bila turun disunnahkan bertasbih. Syaikh merasa heran, mengingat ayahnya bukanlah tipe laki-laki yang taat . Karena penasaran, maka Syaikh pun bertanya, ” Akhi, masya Allah..engkau bukanlah santri dan bukan pula aktivis, tapi anak-anakmu mampu menerapkan sunnah sedemikian rupa. Apa rahasianya?” tanyanya.

” Ya Akhi,,ini bukanlah hasil didikanku, tapi hasil didikan ibu mereka,” jawab temannya.
“Istriku memang…masya Allah! Semoga Allah membalas kebaikannya. Dia betul-betul ibu teladan. Dialah yang mengajari anak-anak berdoa sebelum tidur, doa bangun tidur, doa sebelum dan setelah makan, doa masuk WC, doa ini dan doa itu. bahkan dia memiliki cara unik dalam mendidik anaknya,” lanjut orang itu.
“Bagaimana caranya?” tanya Syaikh Muhammad.

Maka jawabnya,” Kalau sekali waktu anak-anak bertengkar lalu salah satu dari mereka berkata kasar kepada yang lain, maka istriku memanggilnya,

“Wahai anakku, ke sini sebentar.”
“Ada apa Ma? mama hendak memukulku ya?” tanya anakku
” enggak kok, nggak mama apa-apakan. mama cuma mau tanya, siapa yang lebih engkau sayangi, Allah ataukah setan?” kata istriku.

‘Tentu Allah lebih aku sayangi Ma,” jawab anakku polos.
“tapi kok kamu sekarang mau jadi temannya setan?” tanya ibunya.
“Lho, kenapa Ma?” tanya anakku.

“karena kamu berkata kasar tadi. Kalau berkata kasar, berarti kamu jadi temannya setan. Tuh bisa jadi setan sekarang lagi duduk di atas punggungmu. Ia tertawa lebar mendengar ucapanmu tadi,” kata ibunya.
“Trus Ma, bagaimana supaya setan menangis? Aku tak mau jadi temannya setan. Aku au jadi temannya Allah,” kata anakku.

“Oo..gampang, kamu sekarang menghadap kiblat, lalu ucapkan astaghfirullah seratus kali.. Hayo, coba lakukan!” kata ibunya.

” jadi, kalau aku melakukan itu, setan bakal nangis ya?’ kata ankku.
“Iya, kalau kamu lakukan itu, setan pasti nangis,” jawab ibunya.
“Kalau begitu, aku mau istighfar sekarang. astaghfirullah, astaghfirullah, astagfirullah….udah belum Ma?”
“Belum, masih lima puluh lagi,” kata ibunya.

“astaghfirullah, astaghfirullah, astagfirullah..udah belum?” tanya anakku.
“Belum, tiga belas kali lagi,” kata ibunya.

“astaghfirullah, astaghfirullah, astagfirullah..udah?” tanyanya lagi.
“Ya sudah,” kata ibunya.

“Sekarang setan lagi nangis ya Ma?” kata anakku.
“Iya, sekarang dia nangis,” kata ibunya.

” kalu begitu aku mau istighfar lagi supaya nangisnya lebih lama,” kata anakku sembari menambah istighfarnya.

-dikutip dari buku ” Ibunda para Ulama” karangan Sufyan bin Fuad Baswedan-
Subhanallah,,,kalau anak-anak dibesarkan dengan cara seperti itu, diajari bagaimana mendahulukan ridha Allah terhadap kepentingan dirinya, dan bagaimana memenangkan Allah dibanding bisikan setan, tentu kelak ia akan menjadi anak yang shalih, biidznillah insya Allah…

Sumber:  http://wulanmahmudah.wordpress.com/2011/05/04/kisah-ibu-dan-anak/

Kamis, 01 November 2012

AIR MATA SURTI


 Tidak seorang pun yang ingin jadi penduduk kelas bawah, termasuk Agus dan Surti. Alur kehidupan yang dijalani keduanya memuarakan mereka sebagai pasangan suami istri dengan seorang anak, berprofesi sebagai buruh pabrik sepatu, tinggal di kamar ukuran tiga kali tiga meter, penghasilan hanya cukup untuk makan.

Surti telah dua kali melahirkan. Kesehatan anak keduanya bermasalah. Sejak lahir, setiap habis menangis tubuh mungilnya membiru. Surti membawa bayinya ke Puskesmas. Dokter mengatakan kemungkinan besar si bungsu sakit jantung. Ia dirujuk ke rumah sakit Cipto.

“Oalah Nak, hidup kita susah begini, kok ngambil penyakit orang kaya,” Surti bergumam sambil mencium pipi biru anaknya. Air matanya menetes saat menerima surat rujukan dari dokter Puskesmas.

Sebagai ibu, Surti ikhlas berhenti bekerja dan membawa anaknya berobat ke Cipto. Tapi, mereka terbentur biaya. Meskipun kartu miskin bisa diurus tetap saja ada yang harus dibayar. Dari rumahnya ke Cipto tiga kali naik angkutan umum. Pulang pergi enam kali ongkos. Dari mana uangnya? Upah Agus hanya cukup untuk bayar sewa kamar dan beli beras. Selama ini, upah Surti untuk beli lauk-pauk dan biaya lainnya. Tidak ada jalan keluar. Si Bungsu gagal berobat ke rumah sakit besar.

Tidak sanggup hidup berat di dunia, bayi merah Surti balik kepada Sang Khalik. Pasangan itu tergoncang. Mereka merasa bersalah. Terutama Surti. Hatinya perih dan pedih. Ia terluka.

Hidup Surti dan Agus terus mengalir. Seiring dengan berjalannya waktu, luka jiwa Surti berangsur sembuh. Meski, sakitnya masih terasa. Dalam keadaan batin belum stabil tersebut, badai kembali menghantam mereka. Krismon melanda negeri pertiwi, sehingga mempengaruhi kehidupan berbagai kalangan. Agus dan Surti turut jadi korban. Pabrik tempat Surti dan Agus bekerja bankrut.

Setiap hari, Agus, Surti, dan teman-temannya tetap datang ke pabrik. Mereka bergerombol dan mengobrol. Tidak ada pekerjaan lagi. Ketika sebuah koran memberitakan bahwa pemilik pabrik tempat mereka bekerja kabur ke luar negeri, semua karyawan dan buruh tersentak. Mereka merasa kecolongan. Secara spontan mereka berdemo di depan pabrik.

Namun, beberapa hari berdemo, tidak seorang pun petinggi pabrik yang menghampiri para karyawan. Mereka raib tak berbekas. Hanya wartawan yang memotret dan mewawancarai pendemo. Karena itu, Agus dan teman-temannya memutuskan berdemo di halaman kantor Depnaker. Mereka menuntut pemerintah memaksa pemilik pabrik bertanggung jawab terhadap nasib karyawannya.

Surti putus asa. Hari-harinya dan Agus habis untuk berdemo. TV 14 inci, satu-satunya hiburan Si Sulung, telah terjual. Surti sangat ketakutan membayangkan ia dan Agus tidak punya uang sama sekali. Ia tak mampu membeli nasi saat si Sulung lapar. Si Sulung akan lapar berhari-hari dan meninggal, seperti Si Bungsu. Tubuh Surti menggigil. Sebagai ibu, ia merasa tidak berguna lagi.

Diambilnya pisau. Lama diperhatikannya sisi mata pisau yang tajam. Surti melihat Si Bungsu di sana. Ia sehat dan montok. Di punggungnya tiba-tiba tumbuh sayap. Sambil terbang kian ke mari, Si Bungsu memanggil-manggil Surti. Ia mengajak Surti bermain-main di taman bunga yang indah. Surti ingin bergabung dengan Si Bungsu. Gagang pisau dipegangnya erat. Ia siap melayang.

“Mama mau potong apa?” tanya Si Sulung polos. Surti terperanjat. Si Sulung menyadarkannya kembali ke alam nyata. Buru-buru Surti meletakkan pisau. Dipeluknya Si Sulung dengan penuh haru. Si Sulung telah menyelamatkan jiwanya. Hampir saja ia menjadi pengikut setan, setan jahat yang mewujud Si Bungsu untuk menggodanya.

“Maafkan Mama, Nak. Mama tak akan meninggalkanmu. Mama akan cari uang. Kamu tidak boleh busung lapar,” Surti berjanji. “Tuhan, ampuni hamba,” mohonnya tulus. “Stop berdemo. Uang kita hanya cukup untuk bertahan seminggu, Bang,” kata Surti pada Agus.

“Tidak! Abang dan teman-teman ingin kerja lagi atau dapat pesangon. Masa kerja kita telah belasan tahun, jadi pantas dapat pesangon,” Agus bersikukuh. “Untuk makan sehari-hari, Sur, ngutanglah dulu di warung. Kalau pesangon telah keluar, semua kita bayar,” Agus tetap kukuh pada pendiriannya.

Semalaman Surti tidak bisa tidur. Ia ingin berjualan. Tapi, tidak punya modal. Surti memeras otaknya, agar dapat ide, bagaimana caranya, bisa menghasilkan uang. Tiba-tiba, Surti ingat Ipan, pengasong koran di pabrik. Sejumput harapan singgah di kepala Surti. Surti pernah mengobrol panjang lebar dengan Ipan. Dari Ipan, Surti tahu untuk berdagang koran tidak perlu modal. Yang penting mendapat kepercayaan dari agen. Kalau sudah dipercaya, ambil koran pagi, langsung dijual. Besok paginya, ke agen lagi mengambil koran yang terbit hari itu dan membayar koran yang dibawa kemarin.

“Aku akan dagang koran,” Surti memutuskan. Bibirnya tersenyum. Puas. Tapi sayang, sejak pabrik tutup Surti tidak pernah lagi bertemu Ipan. Maka ia mencari sendiri alamat agen koran. Dengan bertanya ke sana ke mari akhirnya ia berhasil menemukan rumah sang agen. Syukurlah, si agen bersedia mengutangi Surti. Ia menyarankan Surti berjualan di tempat yang ramai. Saat itu juga terbayang di pikiran Surti perempatan jalan dekat pabriknya. Siang malam perempatan itu selalu ramai.

Sore itu Surti pulang dengan tubuh dekil dan keringat di jidat. Ternyata, berdagang koran juga berat. Dini hari, ketika orang lain masih berselimut, ia harus berangkat ke bursa koran, menembus dinginnya cuaca. Begitu mendapat koran, langsung dibawanya ke tempat mangkal. Seharian menunggu pembeli, panas terik membakar kulit, setiap detik menghirup debu jalanan. Namun, Surti puas. Hari pertama ia jualan, korannya laris manis. Lima korannya bersisa, tapi bisa dikembalikan ke agen. Surti tidak menanggung rugi.

Malamnya, Surti mengibaskan dua lembar uang sepuluh ribuan pada Agus. “Bang Gus, ini untung Sur hari ini. Banyak ya, Bang,” wajahnya sumbringah. “Kalau kita gerobak koran yang ada rak-raknya, kita bisa dagang majalah juga. Pasti labanya lebih gede lagi. Sekarang Sur hanya bisa mengasong koran dan tabloid,” Surti menerangkan. “Tapi, kalau dagang majalah, harus kita beli kontan. Agen tidak kuat memodalinya.”
Agus tidak bereaksi. Ia terlihat bengong. Jauh di lubuk hatinya, ia malu pada Surti. Untuk mengimbangi usaha Surti mencari uang, Agus berjanji dalam hatinya akan menggantikan tugas harian Surti, memasak dan merapikan rumah, serta menjaga Si Sulung. Jika ia berdemo, Si Sulung akan dibawanya.

Hampir setengah tahun Agus dan teman-temannya menghabiskan waktu menuntut haknya. Atas izin Tuhan, keluar juga pesangon yang didambakan Agus. Tapi jumlahnya sedikit. Itu pun ditalangi pemerintah. Uangnya hanya cukup untuk membuat gerobak koran dan modal membeli majalah. Agus kecewa. Ia berharap, uang pesangonnya jauh lebih besar. Sebab yang di-PHK hanya dua orang, yaitu dirinya dan Surti. Surti menghiburnya. Dibujuknya Agus agar pasrah pada Tuhan. Ia juga mengajak Agus berjualan koran.
Siang itu Surti bersama Agus, dan Si Sulung, menunggui gerobak koran. Mereka baru saja memakan nasi bungkus yang dibeli di Warteg. Sejak berjualan majalah dan punya gerobak, pembeli tambah banyak. Dagangan mereka terlihat semarak.

Tapi tiba-tiba, ketika mereka melayani pembeli, tiga mobil loosback berhenti di depan dagangan Surti. Puluhan petugas trantib melompat turun. Petugas menyuruh Surti dan Agus keluar gerobak. Selanjutnya, mereka beramai-ramai mengangkat gerobak Surti ke atas mobil. Koran, tabloid, dan majalah, ikut mereka bawa. Sebagian bahkan berserakan, terinjak kaki petugas.

Agus dan Surti terkesima. Ketika Surti melihat dagangannya terinjak-terinjak, hatinya mendidih. Bagaikan singa betina terluka Surti mengamuk. Diberikannya si sulung kepada Agus. Dengan membabi buta Surti menarik, menjambak, dan memukul seorang petugas. Ia berteriak-teriak histeris. Agus dengan sebelah tangannya menggendong Si Sulung berusaha merangkul Surti. Tapi, tenaga Surti telah berlipat ganda. Ia berontak dari rangkulan Agus.

Seorang petugas memegang kedua tangan Surti. Surti kesal, diludahinya petugas itu. Tersinggung diludahi, tangan besar sang petugas menampar pipi Surti. Melihat istrinya ditampar, Agus kehilangan kendali. Diambilnya sebuah batu di tanah dan dipukulkannya ke kepala petugas. Kepala petugas itu bocor. Darah mengucur deras.

Agus dan Surti diringkus petugas yang lain. Sebelum dibawa ke kantor polisi, petugas yang marah, karena temannya terluka, menghajar Agus. Tubuh Agus babak belur. Ia pingsan. Surti mati rasa. Pikirannya kosong. Si sulung menghilang. Seorang penculik anak, menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Surti dan Agus tidak bisa lagi memikirkan anak semata wayangnya itu.

Para petugas trantib pulang ke rumah. Bercengkerama dengan anak istri mereka. Tugas hari itu sudah dilaksanakan dengan baik. Jalan protokol telah bersih. Insentif dijamin dapat. Di balik senyum puas petugas trantib dan atasannya itu, terdengar tawa Surti bercampur tangisan pilu. Tangis yang mendayu, mengiringi lagu kehidupannya. Menyapa Agus yang linglung di penjara.

Otak Agus serasa mau pecah memikirkan keberadaan si Sulung. Mungkinkah Agus menyusul Surti ke rumah sakit gila? Aparat tak lagi peduli. Yang penting jalan bersih. Masyarakat nyaman. Tahun depan sang bakal penguasa terpilih lagi.

“Horas Indonesiaku! Horas penguasa! Aku Surti pendukungmu! Aku adalah sampah yang harus kau buang, Tra la la la la. Kau gus-sur, Tri li li li.” Surti terus bernyanyi sepanjang waktu, diselingi seringai, tawa, tangisan, rintihan dan makian.

Belajar Memahami Anak


 Kerap terjadi di kalangan ibu bapa yang gagal memberi didikan dan tumpuan terhadap anak-anak yang bersekolah, terutamanya ketika mereka pergi ke sekolah atau pulang dari sekolah. Ibu bapa tidak meraikan anak-anak mereka ketika pergi dan pulang dari sekolah. Ini berpunca dari kesibukan mereka dalam menjalani tugas ataupun sememangnya mereka malas dan menganggap kerja-kerja seperti ini satu perkara yang kecil dan remeh.

Ibu bapa seharusnya menyedari kecuaian mereka meraikan anak-anak semasa pergi dan pulang dari sekolah. Sekiranya anak-anak dibiarkan pergi dan pulang tanpa ditanya dan diraikan, mereka akan berasa kurang ceria, kurang berminat dan adakalanya anak-anak boleh membohongi ibu bapa dengan mudah, bahkan kadang-kadang ibu bapa tidak tahu apa yang anak-anak mereka lakukan. Bagi anak-anak pra sekolah, lebih-lebih lagi yang baru masuk sekolah atau setahun bersekolah, tentulah anak-anak ini masih ada lagi perasaan takut untuk bersekolah. Ketika proses awal persekolahan inilah ibu bapa perlu mengambil perhatian terhadap anak-anak mereka.

Ibu bapa perlu memainkan peranan dengan melapangkan sedikit masa untuk meraikan pemergian dan kepulangan mereka dari sekolah. Perkara-perkara berikut mungkin boleh dijadikan amalan harian :

n  Mengejutkan mereka dari tidur dengan penuh kasih sayang

n  Menahan sabar terhadap sebarang kerenah mereka pada waktu pagi sebelum pergi ke sekolah.

n  Cuba untuk bersama-sama bersarapan pagi dengan mereka sambil menanyakan kemajuan persekolahan mereka.

n  Sama-sama bergerak ke muka pintu untuk melepaskan mereka pergi sambil bersalam-salaman dan berdakap-dakapan. Suasana berkasih sayang seperti ini amat penting terutama bagi mencairkan kerenah-kerenah negatif yang biasanya ditunjukkan pada waktu pagi. Kalau ada peluang cuba hantar sendiri anak-anak ke sekolah. Dalam perjalanan yang singkat itu banyak bentuk komunikasi yang dapat dilakukan. Banyak proses faham-memahami dapat diusahakan. Jadikan rutin seperti ini sesuatu yang menyeronokkan.

n  Raikan kepulangan mereka. Tanyakan apa yang berlaku di sekolah. Sajikan makanan mereka. Kalau berkelapangan, hadirkan diri sebentar untuk sama-sama menjamah makanan dengan mereka.

n  Sering ingatkan mereka tanggung jawab menyembah Allah S.W.T sebelum mereka melakukan perkara-perkara lain